Lampu-Lampu untuk Umurnya
Sebanyak umurnya, tiap lampu satu harapan
- Tiap lampu satu harapan, dinyalakan dengan sentuhan
- Namanya tersusun dari partikel cahaya
- Surat penutup yang ditulis pelan di depan matanya
Untuk tempat pulang
Keluarga jarang saling mengucapkan hal-hal penting. Kado ini jalan pintasnya: kenangan bersama, dirangkai rapi, dikirim tanpa harus canggung di meja makan.
Sebanyak umurnya, tiap lampu satu harapan
Setahun hidupnya, dipajang seperti karya
Kenangan, permainan, dan pesan yang tersegel tahun depan
Perjalananmu dinarasikan seolah dari sudut pandangnya
Tiap masakan Ibu menyimpan satu cerita
Premier tengah malam, satu-satunya penonton: dia
Disegel hari ini, dibuka saat ia butuh diingatkan
Kenangan yang ia balik satu per satu
Dari titik awal sampai hari ini, digambar jadi peta
Aula megah, konfeti, dan namanya di tengah
Sampul, headline, dan dia sebagai cover story
Untuk kalimat yang selalu kalah cepat dari gengsi
Kado yang dibuka bersama kopi pertama
Pesan dari semua orang, dijahit jadi satu kado
Semua versi dirinya, dirayakan sekaligus
Anniversary pernikahan mereka, dari anak-anaknya
Sebelum siapa pun, mereka yang mencintaimu duluan
Masakannya dipajang seperti karya seni, karena memang iya
Kali ini kamu yang menyimpan fotonya
Yang dulu menjagamu, sekarang kamu jaga
Kenangan yang ia kira sudah kamu lupakan
Tangan yang memasak, melipat, dan menadah doa
Dari kamar kosmu ke dapurnya, digambar jadi rute
Sekali ini, semua lampu menyorot ibu
Wanita di sampul majalah ini membesarkanmu
Layar ponsel berisi aplikasi kecil, semuanya tentang keluargamu
Galeri 3D berisi hidup yang ia besarkan
Kabar yang lebih panjang dari telepon hari Minggu
Dari kamar kosmu sampai meja makan rumah
Edisi khusus tentang kalian, terbit di dua kota sekaligus
Kata-katamu di satu kursi. Kursi satunya menunggu.
Kapsul yang terbuka satu kalimat setiap hari
Setiap pembelaan sudah dicoret sebelum sampai
Catatan waktu dari semua yang hampir terkirim
Satu majalah penuh untuk menarik satu kalimat
Tempat netral untuk bertemu, tanpa kalah menang
Penghargaan untuk juara yang tidak pernah naik podium
Polaroid tangan ayah dan semua yang pernah dikerjakannya
Lagu-lagunya yang dulu kamu protes, sekarang kamu putar
Galeri untuk lelaki muda yang memilih jadi rumahmu
Bukti foto bahwa kamu pelan-pelan jadi dia
Lelaki paling tenang di rumah, akhirnya jadi sampul
Layar penuh aplikasi kecil: bengkel, peta, radio lawas
Galeri 3D berisi hidup yang ia bangun tanpa suara
Dari bintang maba sampai bintang toga
Disegel saat toga, dibuka saat dunia kerja menggigit
Yang di skripsi cuma satu baris. Ini sisanya.
Film tentang orang-orang yang mendudukkannya di panggung
Amplop pertama yang menyebut huruf di belakang namanya
Perjalanan kiriman bulanan itu, dari keringat sampai toga
Pameran kecil untuk semua titik ia nyaris berhenti
Lulus tanpa toga tetap lulus. Ini panggungnya.
Wisudawan terbaik versi orang-orang yang menyayanginya
Galeri 3D yang bisa dimasuki, berisi perjalanan kuliahnya
Setiap tamu jadi satu bintang di langit mereka
Aula digital untuk tamu yang tertahan jarak
Dibaca pagi akad, saat rumah masih sunyi
Kata-kata orang tua yang berhenti di tenggorokan
Disegel hari ini, dibuka saat kunci rumah pertama diputar
Foto masa kecil keduanya, tumbuh saling mendekat
Dua nama di sampul, satu kisah di dalamnya
Satu helai anyaman, satu maaf yang spesifik
Rute mudik yang angkanya mengecil menuju rumah
Semakin dibaca, semakin penuh langitnya oleh cahaya
Semua kabar yang tertunda, dibuka pagi hari raya
Bukan mohon maaf lahir batin yang di-broadcast
Opor, nastar, dan toples yang tidak boleh dibuka duluan
Satu aula untuk keluarga yang tersebar di lima kota
THR yang isinya tidak bisa dibelanjakan
Janji pulang yang ada tanggalnya, bukan wacana
Satu harapan untuk setahun antara dua lebaran
Foto lebaran tiap tahun: baju berganti, kita tidak
Mekar serentak begitu wajah nenek muncul
Pengakuan resmi: charger yang tidak pernah kembali
Surat dari meja makan untuk yang tidak bisa pulang
Tradisi kartu pos keluarga, dihidupkan lagi
Untuk yang tidak bisa mencium tangan mereka tahun ini
Ramadan kalian, dipajang hari per hari
Terkunci rapat sampai takbir pertama berkumandang
Satu layar berisi rumah, lengkap dengan toples-toplesnya
Galeri 3D berisi setahun yang berakhir dengan maaf
Selipkan satu tautan di antara kotak-kotak besar
Tersegel sampai pagi, seperti kado sungguhan
Untuk yang memutar lagu Natal sejak November
Satu tautan untuk seluruh keluarga besar
Foto keluarga setahun, digantung dalam cahaya lilin
Supaya Natal tetap sampai walau kamu jauh
Rute mudik Natal, digambar jadi kenangan
Ia yang memasang bintang terakhirnya
Piyama seragam, pohon plastik, dan kalian yang kecil
Keluarga jarang mengucapkan hal penting. Sekali ini saja.
Satu kejutan kecil setiap hari sampai tanggal dua puluh lima
Kalau kamu tidak bisa pulang, rumah yang datang
Janji yang lebih berat dari kado apa pun
Majalah keluarga: satu tahun dalam satu edisi
Bukan satu kado: satu dunia, disembunyikan di pohon
Ruang 3D bercahaya lilin di tengah malam bersalju
Satu jendela untuk tiap bulan, dibuka satu per satu
Langit penuh harapan yang kamu tulis sendiri
Foto terbaik tiap bulan, dipajang seperti pameran tunggal
Bulan-bulan sulit juga pantas dihormati
Laporan resmi negara kecil beranggota kalian
Utang-utang kecil setahun, dicatat rapi, mustahil lunas
Tebakan tentang masa depan, dibuka saat kumpul lagi
Kado siaga yang menunggu hari terburuknya
Kado Memorie
Kado biasa