Surat yang Tiba Tengah Malam
Untuk dibaca saat harinya baru berganti
- Teks muncul seperti sedang ditulis tangan di depannya
- Kertas, tinta, dan cahaya mengikuti suasana pilihanmu
- Ada ruang balasan; jawabannya terkirim ke emailmu
Untuk yang tidak akan memintanya
Ayah tidak akan menangis di depanmu. Ia akan membacanya sendirian, dua kali, lalu bilang terima kasih dengan suara datar. Itu artinya berhasil.
Untuk dibaca saat harinya baru berganti
Bukan kaleidoskop masa lalu, tapi janji ke depan
Kado yang dibuka bersama kopi pertama
Semua versi dirinya, dirayakan sekaligus
Anniversary pernikahan mereka, dari anak-anaknya
Sebelum siapa pun, mereka yang mencintaimu duluan
Kabar yang lebih panjang dari telepon hari Minggu
Dari kamar kosmu sampai meja makan rumah
Catatan waktu dari semua yang hampir terkirim
Tempat netral untuk bertemu, tanpa kalah menang
Nasihatnya digantung seperti perkakas di papan bengkel
Semua tempat yang pernah ia antar, berujung di hari ini
Penghargaan untuk juara yang tidak pernah naik podium
Film pendek tentang punggung yang selalu di depan
Hati-hati di jalan, artinya aku sayang kamu
Sekali dibaca cepat, sekali lagi pelan saat sendirian
Langit boleh berubah, arah pulang tetap satu
Polaroid tangan ayah dan semua yang pernah dikerjakannya
Kapsul untuk lelaki yang tidak pernah membuatmu menunggu
Seumur hidup doanya untuk keluarga. Satu malam untuk dirinya.
Disepakati tanpa banyak kata, seperti gaya kalian
Dulu ia memperbaiki semuanya. Sekarang giliranmu.
Terima kasih yang selalu batal di depan pintu
Lagu-lagunya yang dulu kamu protes, sekarang kamu putar
Galeri untuk lelaki muda yang memilih jadi rumahmu
Yang biasa menyiram, kali ini disambut mekar
Bukti foto bahwa kamu pelan-pelan jadi dia
Lelaki paling tenang di rumah, akhirnya jadi sampul
Layar penuh aplikasi kecil: bengkel, peta, radio lawas
Galeri 3D berisi hidup yang ia bangun tanpa suara
Yang di skripsi cuma satu baris. Ini sisanya.
Perjalanan kiriman bulanan itu, dari keringat sampai toga
Satu helai anyaman, satu maaf yang spesifik
Rute mudik yang angkanya mengecil menuju rumah
Semakin dibaca, semakin penuh langitnya oleh cahaya
Semua kabar yang tertunda, dibuka pagi hari raya
Bukan mohon maaf lahir batin yang di-broadcast
Satu aula untuk keluarga yang tersebar di lima kota
Janji pulang yang ada tanggalnya, bukan wacana
Foto lebaran tiap tahun: baju berganti, kita tidak
Mekar serentak begitu wajah nenek muncul
Tradisi kartu pos keluarga, dihidupkan lagi
Untuk yang tidak bisa mencium tangan mereka tahun ini
Terkunci rapat sampai takbir pertama berkumandang
Satu layar berisi rumah, lengkap dengan toples-toplesnya
Galeri 3D berisi setahun yang berakhir dengan maaf
Tersegel sampai pagi, seperti kado sungguhan
Foto keluarga setahun, digantung dalam cahaya lilin
Sumpah kecil di penghujung tahun, diucap pelan
Rute mudik Natal, digambar jadi kenangan
Piyama seragam, pohon plastik, dan kalian yang kecil
Keluarga jarang mengucapkan hal penting. Sekali ini saja.
Kalau kamu tidak bisa pulang, rumah yang datang
Janji yang lebih berat dari kado apa pun
Majalah keluarga: satu tahun dalam satu edisi
Sofa yang sama, orang yang sama, dan itu intinya
Untuk kebaikan kecil yang kamu ingat sampai sekarang
Kado Memorie
Kado biasa