Tumbuh Besar dari Mata Ibu
Perjalananmu dinarasikan seolah dari sudut pandangnya
- Perjalanan hidupmu dari sudut pandang Ibu
- Pesan dari seluruh keluarga yang meledak jadi konfeti
- Surat terima kasih yang selama ini tertahan
Untuk yang paling sabar
Ibu menyimpan fotomu lebih rapi daripada kamu menyimpan fotonya. Saatnya membalas: kenangan masa kecil, terima kasih yang spesifik, dan satu kalimat yang selama ini tersangkut.
Perjalananmu dinarasikan seolah dari sudut pandangnya
Tiap masakan Ibu menyimpan satu cerita
Untuk yang belum bisa pulang, tapi ingin memeluk
Untuk dibaca saat harinya baru berganti
Bukan kaleidoskop masa lalu, tapi janji ke depan
Kado yang dibuka bersama kopi pertama
Semua versi dirinya, dirayakan sekaligus
Anniversary pernikahan mereka, dari anak-anaknya
Sebelum siapa pun, mereka yang mencintaimu duluan
Tiketmu belum ada. Suratmu sudah sampai.
Ibu cukup menekan satu tautan di WhatsApp
Masakannya dipajang seperti karya seni, karena memang iya
Kali ini kamu yang menyimpan fotonya
Setiap doanya untukmu jadi satu bintang
Yang dulu menjagamu, sekarang kamu jaga
Terima kasih yang tidak pernah lolos dari tenggorokan
Kenangan yang ia kira sudah kamu lupakan
Tangan yang memasak, melipat, dan menadah doa
Begitu wajahnya muncul, taman mekar serentak
Seumur hidup berdoa untuk orang lain. Malam ini untuk dirinya.
Dari kamar kosmu ke dapurnya, digambar jadi rute
Sekali ini, semua lampu menyorot ibu
Bukan terima kasih untuk segalanya. Untuk hari-hari tertentu.
Versi panjang dari kabar yang selalu kamu singkat
Bukti foto bahwa resepnya menolak ditiru
Bukan janji besar. Janji yang ada tanggalnya.
Wanita di sampul majalah ini membesarkanmu
Layar ponsel berisi aplikasi kecil, semuanya tentang keluargamu
Galeri 3D berisi hidup yang ia besarkan
Kabar yang lebih panjang dari telepon hari Minggu
Dari kamar kosmu sampai meja makan rumah
Kapsul yang terbuka satu kalimat setiap hari
Yang di skripsi cuma satu baris. Ini sisanya.
Perjalanan kiriman bulanan itu, dari keringat sampai toga
Satu helai anyaman, satu maaf yang spesifik
Rute mudik yang angkanya mengecil menuju rumah
Semakin dibaca, semakin penuh langitnya oleh cahaya
Semua kabar yang tertunda, dibuka pagi hari raya
Bukan mohon maaf lahir batin yang di-broadcast
Opor, nastar, dan toples yang tidak boleh dibuka duluan
Satu aula untuk keluarga yang tersebar di lima kota
Janji pulang yang ada tanggalnya, bukan wacana
Foto lebaran tiap tahun: baju berganti, kita tidak
Mekar serentak begitu wajah nenek muncul
Tradisi kartu pos keluarga, dihidupkan lagi
Untuk yang tidak bisa mencium tangan mereka tahun ini
Terkunci rapat sampai takbir pertama berkumandang
Satu layar berisi rumah, lengkap dengan toples-toplesnya
Galeri 3D berisi setahun yang berakhir dengan maaf
Tersegel sampai pagi, seperti kado sungguhan
Foto keluarga setahun, digantung dalam cahaya lilin
Sumpah kecil di penghujung tahun, diucap pelan
Rute mudik Natal, digambar jadi kenangan
Piyama seragam, pohon plastik, dan kalian yang kecil
Keluarga jarang mengucapkan hal penting. Sekali ini saja.
Taman yang menolak musim dingin, mekar saat ia tersenyum
Kalau kamu tidak bisa pulang, rumah yang datang
Janji yang lebih berat dari kado apa pun
Majalah keluarga: satu tahun dalam satu edisi
Pesan pertama di tahunnya, bukan broadcast
Hal pertama yang mekar tahun ini: taman untuknya
Sofa yang sama, orang yang sama, dan itu intinya
Kado paling kecil yang pernah dibuat di sini
Bukan valentine, bukan ulang tahun. Cuma bunga.
Untuk kebaikan kecil yang kamu ingat sampai sekarang
Harapan kecil untuk minggunya, dilepas ke atas
Kado Memorie
Kado biasa